Sleman – Nilai tukar rupiah yang kini tertekan oleh dolar Amarika Serikat (AS), berdampak pada produksi tempe. Pasalnya, bahan utama tempe adalah kedelai yang saat ini masih didapat dari impor. Pelemahan rupiah membuat harga kedelai melonjak.

Harga kedelai terus merangkak naik dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah pengusaha tempe bersiasat agar usaha mereka tetap berjalan tanpa harus menelan kerugian yang besar.

Seperti yang dilakukan pengusaha tempe asal Dusun Joho Sambisari, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok Sleman, M Triono. Sejak lima hari terakhir harga kedelai naik antara Rp 400 hingga Rp 700 per kilogram. Padahal, setiap hari dia membutuhkan hampir 5 kuintal kedelai untuk membuat tempe.

“Harga kedelai sudah naik sejak lima hari ini. Untuk kedelai yang kualitas bagus, harganya Rp 8.000 per kilogram. Padahal, sebelumnya masih berkisar Rp 7.300 hingga Rp 7.600 per kilogram,” ujarnya saat ditemui KRJOGJA.com di tempat produksi tempe, Rabu, 5 September 2018.

Meski harga kedelai naik, dia tidak bisa begitu saja menaikkan harga tempe. Sebab, pelanggan bisa lari dan itu justru membuatnya semakin rugi. Untuk itu, dia mengurangi ukuran tempe. Misalnya, biasanya dalam satu kemasan ada 6 ons. Sekarang berkurang 0,5 ons menjadi 5,5 ons.

Tempe buatannya dibagi dalam tiga kemasan, 800 gram, 500 gram, dan 300 gram dan dijual Rp1.000 per gram, sehingga untuk kemasan 800 gram dia jual seharga Rp8.000. Namun, dalam lima hari terkahir dia mengurangi 50 gram untuk setiap kemasan dengan harga jual sama.

“Nanti kalau harga kedelai turun, ukuran akan kita kembalikan seperti semua. Bahkan, saat harga kedelai murah, ukuran tempe kita per tebal. Karena beberapa pelanggan merasa beratnya lebih ringan,” ujarnya.