“Awas jangan duduk-duduk depan pintu, nanti jodoh kamu jauh!”
“Eeehh, koq nyapu malam-malam sih?? Nanti suami kamu pendek umurnya lho!”
“Kan klo no 13 past sial pak, makanya hotel ini kgak ada lantai 13-nya!!”
“Oh iya, kalau pantai selatan ini emang dikuasai sama nyi roro kidul nih!!”
“Percaya deh, kalau yang mau foto-foto, jangan bertiga deh, nanti satu diantaranya mati cepet lho!”
——–
Ungkapan diatas memang kerap kita dengar oleh telinga kita sehari-hari. Bahkan tidak jarang jika ungkapan tersebut datangnya dari lisan orangtua atau siapapun yang kita segani. Entah yang berkaitan klenik sampai yang berbau nasihat ciamik. Tapi pada hakikatnya, dalam Islam hal diatas bukanlah suatu hal yang dibenarkan. Ungkapan diatas, menurut ulama tauhid merupakan hal yang bisa merusak kemurnian aqidah kita.
Dalam Aqidah Islam, sejatinya seorang muslim mampu menjadi hamba yang benar-benar bisa menjaga kemurnian Aqidahnya pada Allah. Tidak mempersekutukanNya dalam hal sekecil apapun, selain seorang muslim harus meyakini bahwa tidak ada perkara yang terjadi di atas muka bumi ini tanpa kehendak Allah Ta’ala semata.
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Thagabun ayat 11:
 مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Hadid ayat 22:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
Hal diatas, para ulama kerap menyebutnya sebagai khurafat, atau kita sering menyebutnya sebagai mitos. Bahayanya perkara ini, selain bisa merusak keyakinan kita pada Allah Ta’ala bahwa IA adalah satu-satunya Dzat yang mengatur semua urusan kita di dunia dan akhirat, khurafat atau mitos ini akan bisa menjebak kita pada kemusyrikan, besar dan kecilnya. Adapun dampak mitos ini, kadang malah justru menjerumuskan pelakunya ke arah kemusyrikan yang lebih besar lagi, seperti mendatangi dukun atau paranormal agar mampu menolak kesialan yang ia  yakini mislanya. Oleh karenanya, mitos atau khurafata yang bertengangan dengan Aqidah kita yang bersumber dari AlQuran dan Sunnah ini sekiranya patut kita hindari demi kemurniaan Aqidah kita bersama.
Secara umum, selain takhayyul yang kerap menjadi penyakit masyarakat, mitos atau khurafat ini juga menyebabkan kemusykrikan bagi pelakunya ;
Kemusyrikan kecil ; seperi perkataan diatas, “Sis, jangan nyapu malam-malam, nanti suaminya brewokan lho!”
“Eh, akhi, jangan makan di depan pintu, nanti jomblonya kelamaan lho!”
Adapun mitos yang menyebabkan musyrik besar adalah seperti keyakinan bahwa ada “penguasa” lain di suatu kawasana atau tempat selain Allah Ta’ala.
“Waaah, kalau pantai selatan emang kekuasaannya Nyi Roro kidul bro!”