Ketika sedang menjalankan ibadah Haji dan Umroh tentu saja para kaum hawa ingin beribadah secara maksimal. Kalau bisa selalu sholat berjamaah fardhu maupun sholat sunah di masjid Tanah Suci. Tapi khusus bagi kaum hawa, kadang impian itu tidak  sesuai dengan kenyataan karena datangnya “tamu bulanan” atau haid.

Dan bagaimana jika seorang wanita mendapatkan dirinya sedang datang bulan atau haid saat menjalankan ibadah haji dan umroh? Bagaimana seharusnya yang harus dilakukan? Maka ibadah umroh biasanya punya waktu yang gak terlalu lama, yaitu 9-13 hari. Maka dari itu sayang sekali kalau tidak maksimal.

  • Yang Pertama, lihatlah kalender untuk mengetahui jadwal kita haid secara rutin

  • Yang Kedua, pergilah ke dokter untuk berkonsultasi mengenai obat apa yang akan anda minum karena kadang setiap wanita memiliki hormon yang berbeda maka obatnya pun berbeda pula

  • Yang Ketiga, dan jika sudah terlanjur sudah sampai Tanah Suci baru keluar “haid” nya maka berjaga-jaga membawa obat yang mengandung norethisterone.

Bila diperkirakan akan haid pada hari H maka dokter akan memberikan resep obat yang mengandung norethisterone dengan beberapa merek dagang antara lain primolut, luthenyl, norelut. Para ulama NU berdalil dengan kitab Qurratul ‘Ain fii Fatawil Haramain yang berbunyi, “Jika wanita mempergunakan obat-obatan mencegah darah haid atau untuk meminimalisasinya, hukumnya makruh selama tidak menyebabkan kemandulan”.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam keputusan Komisi Fatwa 12 Januari 1979 membahas singkat tentang penggunaan pil haid. Komisi Fatwa MUI yang saat itu diketuai KH Syukri Ghozali memutuskan, tiga hal terkait mengonsumsi pil haid. Pertama, jika niatnya untuk menunaikan ibadah haji, hukumnya mubah atau boleh. Kedua, jika penggunaan pil haid dengan maksud untuk menunaikan puasa Ramadhan, hukumnya makruh. Akan tetapi, bagi Muslimah yang sukar mengqadha puasa pada hari lain maka hukumnya mubah. Ketiga, jika niat penggunaan selain untuk dua ibadah di atas, hukumnya bergantung pada niatnya. MUI menegaskan, jika penggunaan pil haid untuk perbuatan yang menjurus pada pelanggaran hukum agama, hukumnya haram.

Saat Aisyah RA sedang haid, Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji, selain dari melakukan tawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR Muttafaq Alaih)

Lalu, bagaimana jika saat berhaji datang haid pada Muslimah? Di antara syarat sah tawaf adalah suci dari hadas kecil dan besar. Dengan demikian, orang yang bertawaf pada dasarnya, harus bersih dari haid dan nifas. Kesucian semacam ini merupakan syarat sah tawaf menurut sebagian besar ulama. Orang yang bertawaf dalam kondisi tidak suci, tawafnya menjadi batal. 

Berdasarkan pandangan ini, dalam Madzhab Syafii disebutkan, “Wanita haid yang belum melakukan tawaf ifadah harus bertahan di Makkah hingga suci. Kalau ada bahaya yang mengancam atau hendak pulang bersama rombongan sebelum tawaf ifadhah, ia harus tetap dalam keadaan ihram hingga kembali ke Makkah untuk bertawaf walau beberapa tahun kemudian.” (Kitab al-Majmu juz 8, hal. 200)

Sementara menurut kalangan Hanafi, suci dalam tawaf hukumnya wajib. Karena itu, orang yang bertawaf dalam kondisi tidak suci seperti wanita yang sedang haid dan nifas, tawafnya sah, tetapi harus membayar dam. Mereka berdalil dengan firman Allah, “Hendaknya mereka melakukan tawaf di sekitar Ka’bah Baitullah itu.” (QS al-Hajj [22]: 29). Menurut mereka ayat tersebut memerintahkan tawaf secara mutlak, tanpa dikaitkan dengan syarat kesucian.

Pandangan lain disebutkan dalam kitab Fathul Aziz karya ar-Rafi’i, yakni wanita yang tiba-tiba mendapat haid sebelum melakukan atau menyelesaikan tawaf, sementara ia tidak mungkin tinggal di Makkah sampai haidnya selesai, bisa mewakilkan kepada orang lain yang sudah melakukan tawaf untuk bertawaf bagi wanita tersebut.

Jika darah haidnya tidak keluar terus-menerus dan sempat berhenti untuk beberapa hari, pada masa itulah ia bertawaf. Ini sesuai dengan pandangan kalangan Syafii yang menyatakan, kondisi bersih pada hari-hari terputusnya haid dianggap suci.

Terakhir, Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim berpendapat, tawaf ifadah wanita haid adalah sah jika memang kondisinya terpaksa, seperti ia harus pergi bersama rombongan untuk meninggalkan Makkah. Syaratnya, ia harus membalut tempat keluarnya darah. Menurut Ibnu Taymiyyah, dalam shalat sekalipun syarat suci menjadi gugur apabila keadaannya memaksa atau darurat.