Jakarta – Haters ternyata tak hanya bisa menjamur karena membenci satu karakter, seperti selebritas atau tokoh politik tertentu. Psikolog Prof Dr Hamdi Muluk menilai, haters juga bisa muncul karena impitan ekonomi.

“Selain orang yang membenci satu karakter, ada juga kalangan yang awalnya bukan haters, bisa ikut gerakan pelintiran kebencian karena impitan ekonomi,” ujar Hamdi kepada Tekno Liputan6.com via sambungan telepon, Selasa (4/9/2018) di Jakarta.

Gawatnya, dengan bisnis pelintiran kebencian ini, dia melanjutkan, orang yang mulanya hanya memiliki kadar kebencian setengah menjadi full alias benar-benar benci kepada selebritas atau tokoh politik tertentu.

“Ada juga orang yang secara ekonomi berada di taraf bawah, tetapi ‘terpaksa’ jadi haters beneran karena ada tawaran pelintiran isu. Kebencian mereka biasanya didasari terhadap kelompok luar,” ucap pria yang juga berprofesi sebagai guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

Hamdi Muluk menyebut, prakondisi itu adalah orang-orang yang mudah sekali membenci kelompok luar dan menumbuhkan inteloreansi dan prasangka. Biasanya, orang-orang macam ini masa kecilnya mendapat didikan secara otoriter. Dalam psikologi, hal ini disebut authoritarian personality.

Umumnya, karakteristik tersebut suka menjangkiti orang-orang sayap kanan konservatif atau disebut right wing authoritarian. Hamdi menilai, biasanya mereka mudah dijangkiti kebencian.

“Orang-orang fanatis, dogmatis, terlalu curiga dengan hal-hal yang berbau kebebasan. Mereka juga sangat rigid, pandangannya kaku, apalagi terhadap agama,” ucapnya memaparkan.