Saat seekor anjing liar datang ke rumahnya, seorang ibu berjilbab dan bercadar di Tangerang, menganggapnya sebagai suatu tanda bahwa ia harus menolong dan memberi makan binatang itu.

Anjing hitam yang dinamakan Jhon ditemukan di satu rumah kosong dalam keadaaan “kelaparan dan haus”. Anjing itu kemudian dibawa ke rumah dan dipelihara.

Ibu dua putri, Hestri Sutrisno, bercerita setelah menemukan Jhon, anjing kecil lain ia temukan di pinggir sungai dan dinamakan Gufi. Kedua hewan ini menjadi “bagian hidup luar biasa.”

Banyak cercaan ia terima termasuk “kafir” karena memelihara anjing-anjing ini namun tak digubrisnya.

Selain Jhon dan Gufi, ada sembilan ekor anjing serta puluhan ekor kucing liar lain yang dipelihara keluarga ini.

Semuanya punya cerita sendiri sebelum diadopsi. Tujuh anak anjing antara lain dipelihara setelah “induknya mati digebukin orang”, kata Hesti.

Setelah sempat kesulitan sebelumnya untuk memberi makan hewan-hewan yang ditolong, Hesti menyatakan sekarang terbantu dengan berjualan kripik.

“‘Jhon kita nggak akan lapar lagi, bunda jualan John’… ‘Terima kasih sudah nemenin bunda sampegedeGufi padahal dulu kadang satu hari nggak makan, tapi Gufi sehat’. Saya selalu bilang gitu ke anjing-anjing saya,” kata Hesti kepada BBC Indonesia.

Ia pada awalnya takut anjing dan sempat “gemetar” dan ditemani tetangga ketika pertama memberi makan Jhon yang sering berkeliaran di kompleks rumahnya.

Sampai anjing ini akhirnya tahu kediamannya dan datang saat lapar.

“Suami saya waktu itu bilang ada Jhon cari saya dan ternyata anjing itu,” kenang Hesti.

Ia kemudian mengunggah di akun Facebooknya pertemuan dengan anjing liar ini dua tahun lalu menulis, “Baik-baik ya Jhon, ingat pesan saya… kalau ada yang berniat jahat padamu larilah secepat mungkin, atau bersembunyi… Semangat ya Jhon… datanglah ke rumah, jika kamu lapar,” unggahan dua tahun lalu di media sosial yang mendatangkan pujian dan juga kecaman.

Udahngatain saya kafir, udah ngatain Islam bohonglah, saya nggak peduli, saya nggak akan balas. Karena kalau saya balas, saya sama dengan mereka,” cerita Hesti.

Tanggapannya antara lain, “Saya ceritain dari awal, akhirnya dari situ, dia minta maaf karena berpikiran jelek, sama (perempuan) bercadar juga. Mereka berprasangka buruk.”

“Bingung juga saudara se-Muslim saya, apa yang dipersalahkan? Najis? Allah kan kasih tata cara untuk mensucikannya kembali,” katanya lagi.

Neng Dara Affiah, pengasuh Pondok Pesantren Annizhomiyyah, Banten, mengatakan “memiliki posisi sama” dengan Hesti.

“Seluruh makhluk Tuhan di muka bumi, harus disayangi, ketika bu Hesti menolong anjing, justru perilaku sangat baik,” kata Neng Dara sambil menambahkan dia juga memelihara anjing yang dibuang orang di depan rumahnya.

“Ada orang yang buang anjing di depan rumah saya, ternyata anjing itu malah seperti menyayangi saya, dan saya balik menyayangi anjing yang menjaga saya,” kata Neng Dara yang juga dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.

Ia menambahkan bahwa “dalam tradisi fikih Islam, yang najis ketika anjing menjilat tubuh kita, saat salat tak dibasuh, tapi memelihara, memberi makan dan saling memelihara, tak ada ayat yang melarang karena justru ayat yang paling kuat dalam Islam, ketika memelihara alam semesta dan alam semesta akan memelihara kita.

sumber : http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43473637?ocid=socialflow_twitter