Saat ini bukan hanya orang dewasa saja yang mentato  tubuhnya, melainkan anak-anak juga ikut-ikutan menggunakan tato. Banyak yang melakukan hal tersebut tanpa tahu hukum dari tato. Di Indonesia sendiri hukum tato itu tidak diperbolehkan sebenarnya karena bisa memperburuk kehidupan kedepan nya, apalagi bagi seorang anak yang masih belum memilih sebuah pekerjaan dan masih dalam tahapan belajar.

Hal ini juga diperkuat karena masyarakat di Indonesia juga mayoritas beragama islam, dan dalam islam sendiri sudah terlihat jelas bahwa diharamkan menggunakan tato, tetapi masih banyak masyarakat yang tidak mau mendengarkan larangan tersebut dan mengabaikan nya.

Dari Alqomah, dari Abdullah bin Mas’ud, beliau mengatakan :

“Allah melaknat wanita yang menjadi tukang tato dan wanita yang minta ditato, wanita yang mencabuti bulu alis dan wanita yang minta agar bulu alisnya dicabuti, begitu juga dengan wanita yang merenggangkan giginya demi sebuah kecantikan. Mereka lah wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah” (HR Bukhari no 4604 dan Muslim no 5695)

Semua yang disebutkan dalam hadis di atas tentunya akan dilaknat oleh Allah SWT, karena itulah dalam agama islam yang nama nya tato itu tidak diperbolehkan, entah itu laki-laki ataupun perempuan. Ancaman dari perbuatan mentato diri sendiri juga sangat mengerikan, yaitu mendapatkan laknat dari Allah.

Sebenarnya perempuan ataupun laki-laki sangat dilarang untuk menggunakan tato, dalam hadis di atas menggunakan kata perempuan karena memang pada jaman dahulu lebih banyak perempuan yang menggunakan tato dibanding laki-laki, karena itulah dalam hadis disebutkan perempuan, tetapi sebenarnya laki-laki ataupun perempuan semua nya diharamkan menggunakan tato.

Dosa tersebut tidak hanya didapatkan oleh tukang tato saja, tetapi juga orang yang di tato, karena itulah hindarilah yang namanya tato.

Abu Malik Kamal bin al Sayid Salim berkata:

“Di jaman ini muncul tato model baru yaitu tato yang dicapkan dan dilukis pada kulit, tidak dimasukkan ke dalam kulit. Tato model ini di bolehkan dengan syarat, jika tidak membahayakan kulit dan tidak di perlihatkan kepada orang lain selain suaminya. Hal ini bisa di katakan boleh karena hal tersebut tidak termasuk dalam mengubah ciptaan Allah, maka misalnya menggunakan pacar untuk kuku atau rambut. Meskipun begitu, yang lebih baik adalah meninggalkannya karena menyerupai atau hampir sama seperti orang yang benar-benar bertato” (Fiqh Sunnah lin Nisa hal 427, Maktabah Taufiqiyyah Mesir).