Jakarta – Penanggung jawab bagasi Garuda, Rusmana mengatakan, masalah jemaah haji Indonesia masih terkendala banyaknya yang nekat membawa air zamzam. Menurutnya, penanganan koper jemaah haji saat hendak pulang memang memiliki dinamika tersendiri.Pemulangan jemaah gelombang satu dari Jeddah, kata Rusmana, masih didominasi masalah jemaah haji yang tak hanya membawa air zamzam, tapi juga barang terlarang lain di dalam koper.

Saat melihat langsung proses loading koper di Saudi Cargo dan Garuda Cargo ada sedikit perbedaan. Koper jemaah haji yang menumpang Saudi Arabian Airlines discan x-ray dua kali, yaitu di hujjaj Makkah dan cargo bandara. Sedangkan koper jemaah Garuda hanya discan di Garuda Cargo.

“Koper dari hotel langsung ke bandara semua, menggunakan truck box atau container,” ujar Rusmana saat penanganan koper BDJ-1 di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, seperti dikutip dari laman www.haji.kemenag.go.id, Jumat (31/8/2018).

Pemeriksaan koper jemaah haji Garuda selama di Makkah, lanjut dia, dilakukan secara visual dan baru masuk x-ray di Bandara.

“Setiba di sini baru x-ray, lalu masuk built up untuk proses pallet, terus masuk ke pesawat. Satu pallet berisi 65-70 koper dan satu pesawat muat 6 atau 7 pallet,” ucapnya.

Terkait barang yang tidak boleh dibawa jemaah di dalam koper dan kabin, Rusmana mengaku sudah melakukan sosialisasi.

“Sejak berangkat sudah (sosialisasi) dan selalu diingatkan termasuk sosialisasi masif melalui media. Kami juga informasikan di hotel-hotel jemaah dengan pamflet,” terang Rusmana didampingi para petugas Daker Airport.

Selain itu, kata dia, sosialisasi juga dilakukan melalui petugas Garuda dan petugas kloter.

“Tapi masih banyak jemaah yang mencoba bawa zamzam. Kemarin ada (yang ditemukan bawa zamzam), petugas GID (General Investigation Departement) minta koper tetap dibongkar disaksikan oleh petugas Garuda dan petugas Daker,” pungkas Rusmana.