MADINAH – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengaku terkejut saat sebagian jamaah haji Indonesia mendapatkan hotel berbintang 5 dengan kamar bertipe suite. Tipe ini merupakan tipe kamar yang bisa dibilang mewah.

Menag yang didampingi Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis serta Kepala Daerah Kerja Madinah M Khanif sempat meninjau beberapa hotel yang akan ditempatkan jamaah haji Indonesia.

“Iya saya sungguh sangat terkejut, saya tidak menyangka jamaah kita juga bisa mendiami kamar-kamar suite yang ada di hotel berbintang 5 di sini. Tentu itu sesuatu yang di luar dugaan,” kata Menag saat menyambangi Hotel Millenium dan Hotel Shaza di Madinah, Senin (27/8/2018), katanya seperti mengutip kemenag.go.id.

Menag mengaku khawatir. Pasalnya, setelah jamaah mendapatkan kamar tersebut, nantinya akan betah di kamar sehingga tak mau ibadah di masjid.

“Meskipun saya juga jadi waswas juga karena nanti khawatir jamaah kerasan di dalam kamar saja tidak mau ke masjid,” selorohnya.

Dia pun bersyukur, sebagian jamaah ada yang mendapatkan fasilitas seperti ini, walaupun tidak seluruhnya mendapatkannya.

“Tapi, mudah-mudahan itu menjadi hal yang patut disukuri, meskipun tidak bisa dirasakan oleh seluruh jamaah kita,” ucapnya.

Menag pun mengapresiasi pihak manajemen hotel karena telah melebihi dari standar yang telah ditetapkan, segala kebutuhan jemaah mulai dari pergantian seprai bantal bisa diganti sesuai dengan kebutuhan dan keinginan jemaah, di dalam kamar juga sudah tersedia coffee maker dengan semua keperluannya.

“Jika memang bisa memberikan kualitas seperti ini terus, kita akan kontrak semusim tahun depan” kata Menag.

Menag berharap, tahun depan seluruh hotel yang akan disewa akan menggunakan sistem full musim. Tahun ini sistem hotel yang disewa di Madinah menggunakan kombinasi sistem blocking time dan full musim.

Sistem sewa blocking timemerupakan sistem penyewaan untuk hari-hari tertentu saja, sesuai dengan tanggal-tanggal kedatangan jamaah. tentu ini diperlukan keakuratan dengan tanggal-tanggal kedatangan jemaah.

“Ini juga berpotensi menimbulkan persoalan-persoalan, karena hotel dengan seperti itu yang kita sewa blocking time, juga diisi oleh jamaah lain,” jelas Menag.

Sedangkan sistem sewa full musim adalah sistem penyewaan hotel selama musim haji, sehingga saat musim haji pengaturan penempatan hotel jamaah dapat diatur sendiri sesuai dengan kedatangan kloter-kloter.

“Jadi, kita ingin seluruh hotel yang kita sewa dengan sistem full musim seperti di Makkah sehingga seluruh musim haji kita sendiri yang ngatur, sehingga kita bisa leluasa mengatur sesuai kedatangan kloter-kloter kita,” pungkas Menag.