Perlombaan dalam bahasa arab adalah musabaqoh dan termasuk olah raga  terpuji, hukumnya berubah-ubah, tergantung niatnya.. Hukum asal perlombaan adalah dibolehkan.Hal ini dibuktikan dalam beberapa hadits dan juga ijma’ (kesepakatan para ulama). Apalagi jika lomba tersebut sebagai persiapan untuk jihad seperti lomba memanah atau pacuan kuda, para ulama sepakat akan kesunnahannya. Bahkan kadangkala hukum melakukan lomba memanah dan pacuan kuda bisa jadi wajib (fardhu kifayah) di kala diwajibkannya jihad.

– وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهصلى الله عليه وسلم “لَا سَبْقَ إِلَّا فِي خُفٍّ, أَوْ نَصْلٍ, أَوْ حَافِرٍ”  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالثَّلَاثَةَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّان

                Dari Abu Hurairah (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) bersabda: Tidak  boleh  mengambil  hadiah  dalam  pertandingan  kecuali  hanya  pada perlombaan  unta,  mata  panah,  dan  telapak  kaki  kuda’.”  (Diriwayatkan  oleh Imam Ahmad, al-Tsalatsah dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban).Hadits 1342

Makna Hadits

Rasulullah  (s.a.w)  memperbolehkan  pertandingan  atau  perlombaan  di kalangan sahabat,  tetapi  selanjutnya  baginda  merasa  kawatir apabila  mereka mengikuti perlombaan  itu hanya untuk mendapatkan hadiah semata. Tujuan untuk mendapatkan  hadiah semata ini  seolah olah  menjadi  perjudian  sebagaimana yang  dilakukan  masyarakat  zaman dahulu.  Maka  baginda  menjelaskan  hadiah hanya  diberikan  dalam  tiga  jenis perlombaan yaitu: mengendarai unta, memanah dan pacuan kuda. Hal ini disebabkan karena ketiga jenis perlombaan  ini  sangat diperlukan  dalam  petempuran.  sehingga  Rasulullah (s.a.w) menggalakkan para sahabat untuk mengikutinya.

Pandangan Ulama Fikih tentang Perlombaan

Ulama Syafi’iyah meluaskan lagi perlombaan yang diperbolehkan pada setiap lomba yang nanti berperan serta dalam jihad. Adapun lomba adu ayam, burung, dan domba tidak termasuk dalam hal ini dan jelas tidak dibolehkan karena bukan termasuk sarana untuk jihad. Termasuk lomba yang dibolehkan adalah lomba hafalan Qur’an dan lomba ilmiah keagamaan.

Termasuk perlombaan yang menjadi alat menghancurkan ummat ini adalah turnamen olah raga, seperti turnamen sepak bola dan lainnya yang melalaikan ummat. Apalagi yang menjadi pelakunya adalah pemuda. Terbuang percuma waktu mereka, menjadikan mereka berkelompok-kelompok dan melalaikan mereka dari masalah yang pokok.

Termasuk fiqh nawaazil (fiqh kontemporer) adalah perlombaan balap mobil (rally). Ini termasuk perlombaan yang diharamkan. Alasannya adalah karena mobil bukanlah alat perang dan tidak menguatkan fisik pengemudinya sebagaimana yang diperoleh dari olah raga berkuda, memanah atau olah raga lainnya. Selain itu termasuk permainan bathil yang mengundang bahaya karena penuh spekulasi dan bahaya, dapat menyebabkan kematian pengemudinya atau cedera berat.