JEDDAH – Tiga WNI yang berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji melalui jalur tidak resmi sempat tertahan kepulangannya dari Arab Saudi. Mereka tidak diizinkan meninggalkan Arab Saudi sesuai jadwal penerbangan karena masuk bukan dengan visa haji.

Seorang jamaah yang tertahan menuturkan kepada Tim Perlindungan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, bahwa dirinya berangkat bersama suaminya pada 2 Agustus silam dan mendarat keesokan harinya di Bandara Internasional King Khaled Riyadh.

Bersama rombongan jemaah lain yang berjumlah sekitar 15 orang, jemaah calhaj asal Jawa Tengah ini menempuh jalan darat dengan jarak sekitar 900 kilometer menuju Jeddah sebelum memasuki Tanah Suci Mekkah.

Calhaj ini mengaku menyetor dana sebesar Rp130 juta kepada Biro Travel berinisial EG yang memberangkatkan dirinya. Biro EG ini bekerja sama dengan Yayasan AH yang berkantor Surabaya dengan janji paket haji ONH Plus.

Calhaj ini mengaku sama sekali tidak tahu dirinya diberangkatkan dengan visa ziarah pribadi (ziarah syakhsiyah) dengan penjamin warga negara Saudi atas nama Sirin Binti Fauzi Mohammad Abu Zaid. Dia juga tidak tahu risiko berhaji dengan visa ini karena di visa tersebut tertulis dalam bahasa Arab yang dia sendiri tidak mengerti artinya.

Visa ziarah syakhsiyah merupakan jenis visa yang dikeluarkan oleh perorangan warga Saudi sebagai penjamin atau pihak yang dikunjungi di Arab Saudi.

Nahas saat dia hendak pulang bersama sang suami 28 Agustus  silam, mereka tidak diizinkan melintas di Kantor Imigrasi Bandara Jeddah karena melakukan pelanggran keimigrasian, yaitu dilaporkan kabur oleh penjaminnya dan diwajibkan mengurus dokumen exitnya di Pusat Karantina Imigrasi (Tarhil) di Syamaisi.

Beruntung dia sempat menunaikan ibadah haji, meski untuk kepulangannya ke Tanah Air diwajibkan membayar denda sebesar 15 ribu riyal atau sekitar Rp55 juta. Pasalnya dia kedapatan telah melakukan ibadah haji tanpa tasrekh (surat izin haji dari Pemerintah Saudi).

Tapi biaya denda tersebut ditanggung oleh biro perjalanan yang memberangkatkan. Dia pun akhirnya bisa kembali  ke Tanah Air pada 5 September silam setelah memperoleh exit permit. 

Berbeda dengan kasus yang dialami jmaah berinisial FDW. Bersama rombongan yang berjumlah 12 orang, FDW diberangkatkan oleh Biro Perjalanan Mubina pada 14 Agustus silam, atau 6 hari menjelang Hari Wukuf di Arafah dengan rute penerbangan Jakarta– Singapura–Colombo–Riyadh—Jeddah.

Kepada Biro Travel, pria asal Palembang ini mengaku menyetor uang senilai Rp150 juta untuk berangkat haji dengan janji paket haji ONH Plus dengan jadwal kepulangan rombogan yang berbeda-beda.

Saat hendak pulang pada 7 September silam, FDW tertahan di bagian Imigrasi Bandara King Abdulaziz Jeddah karena dia masuk ke Arab Saudi menggunakan visa amal (kerja) dengan profesi sebagai tukang cat bangunan. Senasib dengan TSR, pria kelahiran tahun 1954 juga mengaku tidak memahami sama sekali arti visa ziarah yang tertulis dalam Arab.