Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Quran Surat Asy- Syu’ara ayat 215 :

“Dan rendahkan dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.”

Dari ayat di atas, Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu alaihi wa alihi wa shohbihi wa sallam, “duhai Muhammad Rasulullah, rendahkanlah sayapmu”. ini perintah Allah ta’ala kepada baginda Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu alaihi wa shohbihi wa sallam untuk meletakkan sayapnya sebagai bentuk bertawadhu atau rendah hati.

Salah satu sifat mukmin atau muslim sejati adalah tawadhu’, yakni rendah hati, tidak merasa lebih dari yang lain. Lawannya adalah sifat sombong (takabur). Rasulullah Saw menegaskan:

Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’ sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (HR. Muslim).

Tawadhu‘ adalah rendah hati, tidak sombong, tidak arogan, tidak ingin menonjolkan diri, tidak ingin pujian, tidak pula gila hormat, dan tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih.

Menurut Imam Al-Hasan Al-Bashri, tawadhu’ itu setiap kali seseorang keluar rumah dan bertemu seorang muslim, ia “selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya”.

Tawadhu‘ juga bermakna ketundukan kepada kebenaran,  menerima nasihat dan koreksi dari siapa pun datangnya, baik dalam keadaan suka maupun murka dan duka.

Ulama generasi tabi’in, Fudhail bin Iyadh, ketika ditanya tentang tawadhu’ ia menjawab: “(Tawadhu’ adalah) ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerima dari siapa pun yang mengucapkannya” (Madarijus Salikin).

Menurut Ibnul Qayyim: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran, walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah karena Allah adalah Al-Haq, ucapannya haq, agamanya haq. Al-Haq datangnya dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran, berarti dia menolak segala yang datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”

Di hadapan Allah SWT, tawadhu‘ adalah sikap merendahkan dan menghinakan diri. “Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya,” (HR. Muslim).

Allah SWT dan Rasul-Nya menyukai sifat tawadhu’ dan sebaliknya, membenci  takabur.

Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain” (HR. Muslim).

Allah SWT menjanjian kebahagiaan bagi orang-orang tawadhu’. “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83).